Penanganan Covid-19 Dalam Perspektif Ketahanan Bencana di Indonesia

Turun Tangan

29 Jul 2020

Jumat (24/07) telah dilaksanakan Webinar Nasional tentang “Evaluasi Penanganan Covid-19 dalam perspektif ketahanan bencana di Indonesia” yang diselenggaraan Indonesia Resilience (IRES) Melalui saluran aplikasi ZOOM. Indonesia Resilience merupakan lembaga inkubasi dari TurunTangan yang berfokus pada penelitian resiliensi dan pengurangan resiko bencana, berbasis aktivisme serta pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang memiliki resiliensi. Webinar kali ini merupakan respon yang dilakukan Indonesia Resilience terhadap kebijakan-kebijakan penanganan Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah. Dalam kajian Resiliensi Kebijakan menjadi salah satu analisis yang menentukan derajat resiliensi di suatu wilayah, selain analisis rumah tangga atau tingkat individu. Harapannya diskusi ini bisa menjadi sebuah bahan rujukan evaluasi pemerintah dalam menentukan kebijakan

Pemateri dalam Webinar Nasional merupakan ahli pada bidang kebencanaan seperti : Dr. Rahmawati Husein selaku Wakil Ketua - MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), Ir. Tri Budiarto, M.Si selaku Mantan Deputi Penanganan Darurat - BNPB, J. Victor Rembeth selaku Direktur Pengurangan Resiko Bencana – Save The Children, Serta Karyono Wibowo  selaku Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute. Webinar kali ini dimoderatori oleh Restiana dari Indonesia Resilience (IRES).

Dalam webinar nasional ini dimulai dari pertanyaan awal moderator tentang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait penanganan selama Pandemi Covid-19. Menurut Karyono dari Indonesia Public Institute, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkesan tambal sulam, dan trial-error, padahal anggaran terus ditingkatkan terkait penanganan Covid-19 ini, tapi implementasi anggran pada proses penanganan Covid-19 terbilang lambat. Beliau mencontohkan pada penyerapan anggaran kementrian kesehatan yang belum maksimal, salah satu faktor ini lah yang menyebabkan lambatnya penanganan Covid-19 di Indonesia. Karyono juga menjelaskan, pemerintah kurang memahami manajemen krisis. Karyono menanbahkan juga, perubahan kebijakan terjadi lagi belakangan ini setelah menanggapi ekspresi kemarahan Presiden terkait lambatnya penanganan Covid-19. Perubahan Kebijakan yang terus terjadi pada saat ini mengafirmasi kebijakan yang tidak efektif dikeluarkan pemerintah. Tapi perlu diuji kembali perubahan kebijakan yang mengintegrasi pemulihan dampak sosial-ekonomi dan penanganan tanggap darurat Covid-19.

Selain itu Victor Rembeth dari Save The Children, menyatakan “Dalam segi komunikasi pemerintah memiliki bottle neck, padahal potensi media edukasi pada TV dan Media Sosial cukup tinggi, mestinya pemerintah memaksimal potensi media ini dengan memberikan kepercayaan pada epidemiolog, dokter serta peneliti bicara tentang Covid-19. Hambatan komunikasi yang ada berdampak pada perilaku masyrakat, padahal disituasi hari ini perlunya kekhawatiran yang berlebih dan memang seharusnya sebagai proteksi dan preventif terhadap Covid-19. Selain itu komunikasi yang timpang berdampak pada ketidakrasionalan perilaku masyarakat, serta degradasi kepercayaan di masyarakat. Pemerintah mestinya fokus pada prosedur kualitas dan konsistensi”, tuturnya. Victor juga menambahkan, bahwa Covid-19 berdampak juga pada sektor pendidikan, terkhusus anak–anak yang sudah mulai masuk sekolah dengan sistem pembelajaran online/daring.

Dr. Rahmawati, dari MDMC lebih menekankan pada pentingnya kolaborasi dan partisipasi publik untuk memberikan masukan pada pemerintah dalam hal membuat kebijakan saat pandemic Covid-19. Sejauh ini kolaborasi yang dilakukan masih normative dan belum tersistemasi. Pendekatan yang dilakukan masih sektoral, masing-masing lembaga punya data yang berbeda, ditambah tracking, tracing dan testing yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya baik. Data yang disediakan oleh pemerintah tidak dapat diakses semua kalangan, terlebih tidak ada kordinasi dalam pengelolaan data yang dilakukan pemerintah. Rahmawati menambahkan perlunya korvegensi yang koheren mulai dari kebijakan sampai aturan program aktifitas dalam mereduksi penyebaran Covid-19 ini. Leadership yang baik juga diperlukan dalam tata kelola penanganan bencana, strong leadership sangat diperlukan dalam krisis.

Setelah tiga pemateri mengemukakan pendapat, mantan Deputi Penanganan Darurat Ir. Tri Budiarto juga menanggapi penanganan yang dilakukan pemerintah. Mantan Deputi BNPB ini mengkritisi lambannya penanganan yang dilakukan dalam menghadapi Covid-19. Tri Budiarto menilai pemerintah terlalu lama dalam mengambil kebijakan. Ini yang akhirnya menimbulkan dampak secara sosial-ekonomi di masyarakat. Tri Budiarto memprediksi ke depan Covid-19 lebih nyata dan serius, gejolak-gejolak penolakan terhadap kebijakan yang dilakukan bisa saja terjadi mengingat dampak resesi yang terus hadir ketika Covid-19 ini tidak terselesaikan. Selain itu perlunya komunikasi yang harmonis dan dialogis yang dilakukan pemerintah, serta menyederhanakan kebijakan-kebijakan agar dipahami masyarakat sampai tataran akar rumput.

Diskusi ini juga ditanggapi oleh Hari Akbar Apriawan selaku Direktur Eksekutif Indonesia Resilience. Hari berkata, "Diskusi semacam ini diperlukan sebagai bentuk usaha-usaha yang dilakukan CSO, NGO, maupun lembaga-lembaga terkait yang terlibat dalam menuntaskan permasalahan penganan Covid-19. Ini merupakan bentuk komunikasi intelektual untuk menyelaraskan hal-hal yang tidak terselesaikan dalam penanganan Covid-19." Harapannya diskusi ini bisa menjadi bagian rujukan kebijakan dalam penanganan Covid-19 yang kurang maksimal.

Dalam webinar kali ini, moderator juga membuka sesi pertanyaan  selama 45 menit. Peserta webinar pun cukup turut aktif dengan mengajukan pertayaan yang cukup relevan dengan tema webinar kali ini. Banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta dikurasi oleh moderator dan tercatat oleh ada 3 pertayaan yang layak didiskusikan kepada para pembicara mengingat keterbatasan waktu yang disediakan penyelenggara. Pertanyaan yang tidak sempat ditanya dalam forum di jawab melalui e-mail. Peserta pun juga saling bertegur sapa dan saling bertukar data lewat saluran chat yang di sediakan dalam aplikasi yang digunakan.

Webinar ini dihadiri oleh para Akademisi dari beberapa kampus di Indonesia, para ahli di bidang kebencanaan seperti BPBD, lembaga kebencanaan yang ada di Indonesia, serta partisipan umum. Total peserta dalam webinar ini mencapai 158 peserta dari 320 pendaftar. Acara ini berlangsung dari pukul 19.00 WIB sampai 21.30 WIB.