Inspiring Talks : Dedikasiku untuk Negeri

Turun Tangan

04 Dec 2019

Jakarta, 9 November 2019 – TurunTangan adalah sebuah inkubasi kepemimpinan pemuda dengan pendekatan gerakan kerelawanan. Sebanyak 53 kota/kabupaten se-Indonesia telah bergerak dengan 107 gerakan kerelawanan di bidang pendidikan, lingkungan, sosial kemanusiaan, edukasi politik, dan kesehatan. Tercatat ada sebanyak 53.000 relawan yang telah memilih terlibat.

Gathering Nasional TurunTangan dilaksanakan di Jakarta dari 6-10 November 2019. Agenda besar tahunan ini mempertemukan 120 relawan yang tersebar dalam 53 daerah di Indonesia. Tujuan Gathering nasional adalah mempererat dan memperkuat pergerakan delegasi Relawan TurunTangan dari seluruh daerah.

Sabtu, 9 November 2019, Gathering Nasional TurunTangan memasuki sesi Inspiring Talk. Mereka melaksanakan acara tersebut di Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan pukul 13.00-18.00 WIB.

Di dalam sesi Inspiring Talk ini ada sejumlah pembicara antara lain Novel Baswedan selaku penyidik KPK, Haris Azhar selaku Direktur Eksekutif Lokataru, Reny W. Indriadi selaku HR Director Sekolah Cikal, Suci Hendrina selaku Public Relation Manager Wardah Cosmetic, Subhanudin Husein selaku Strategic Development Manager Indonesia Mengajar, Zahra Fajardini selaku Director of Education Nizamia Andalusia School, Abdul Rahman Ma’mun selaku CEO Magnitude Indonesia, dan Majlis Belia Malaysia dan Institut Darul Ehsan Selangor, Malaysia.

Gathering Nasional kali ini mengusung tema "Relawan itu Pahlawan" harapannya para relawan dapat terinspirasi, belajar, dan meneladani nilai-nilai kepahlawanan seperti rela berkorban, tulus, berkomitmen memajukan bangsa dan negara. Ketika ditanya tentang siapa pahlawan menurut pembicara, mereka mempunyai jawaban masing-masing.

Salah satu pembicara, Zahra Fajardini berkata, “Relawan melakukan sesuatu yg berdampak hingga mereka lupa bahwa mereka itu pahlawan. Pahlawan bagi saya adalah orang yang al-amin dan amanah, dan itu sangat tdk mudah. Ada Ungkapan bahwa kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa cari pengalaman, kurang jujur sulit diperbaiki. jujur, sederhana, amanah adalah karakter pahlawan menurut saya.”

Menurut Ketua TurunTangan Chozin Amirullah bahwa orang-orang yang berbuat baik dan memperjuangkan kebaikannya ke banyak orang itu adalah pahlawan. Tapi kepahlawanan itu bisa jadi tidak dikenal oleh banyak orang. Mungkin hanya dikenal oleh beberapa orang atau bahkan bahkan hanya dikenal oleh keluarganya sendiri.

Chozin berkata, “Bagi saya, pahlawan saya adalah bapak dan ibu saya. walaupun tidak cukup mampu, dulu ayah saya membuat pesantren saat era orde baru, membuat alternatif pendidikan untuk masyarakat. Pahlawan itu yang bisa membuat kita terngiang-ngiang terkait idealisme kita.”

Novel Baswedan berkata, “Pahlawan menurut saya adalah tokoh kemerdekaan Indonesia dan semua orang yang berbuat baik dengan ikhlas.” Terkait kepahlawanan, Novel mengajak untuk berbuat kebaikan tanpa mengharapkan pujian dan ucapan terima kasih.

“Jika kita dalam berbuat mengharapkan sesuatu,  cepat lambat kita akan berhenti. Jika kita istiqomah maka kita akan bersemangat untuk melakukan itu,” kata Novel.

Menurutnya, di Indonesia sekarang stok orang baik sudah banyak berkurang. Oleh karenanya kitalah yang harus menggerakan semangat itu.  Novel berkata, “Karena dalam hidup kita diberi kesempatan untuk berbuat baik, beramal sholeh. Dan waktu itu sangat singkat, maka jika kita tidak berbuat baik maka kita akan merugi.”

Walaupun terkadang perbuatan baik kita akan tidak disukai orang lain. “Contohnya polisi yang berbuat baik menangkap maling, dia tidak akan disukai oleh teman-teman malingnya. Jika kita berbuat baik tapi berisiko, maka kita akan mendekatkan diri pada Allah. Bukankah itu baik? poin kita adalah optimalkan kesempatan yang ada, berbuat baik terus,” Kata Novel.

Kemudian saat ditanya apakah Novel Baswedan pernah terpikir untuk berhenti? Ia menjawab, “Pernah. tapi berhenti bukan untuk menyerah, tapi karena efektifitas. Jika apa yang saya lakukan tidak efektif saya pernah berpikir untuk berhenti.  Tapi kemudian saya terapkan bahwa saya harus berpikir sesimpel mungkin, jangan terlalu berangan-angan dan meminta imbalan atau pujian org lain,”

Banyak sekali hal-hal yang positif yang bisa dipetik oleh relawan dalam Inspiring Talk ini. Seseorang dapat menginspirasi biasanya berangkat dari pengalaman hidupnya. Begitu juga dengan Chozin, Ketua TurunTangan, dia berbagi pengalamannya menjadi relawan saat musibah tsunami di Aceh pada 2004 silam.

Saat tsunami di Aceh Ia berangkat sendirian ke Aceh. tapi Ia menyadari bahwa jika Ia sendirian akan kurang optimal. Lalu Ia belajar mengorganisir sampai suatu saat relawan datang. “Berangkat ke Aceh kemudian menjadi tren. Karena ada narasi saat mereka tertimpa bencana, lo ngapain aja? lalu banyak sekali relawan berbondong-bondong datang ke Aceh,” Kata Chozin.

Ia mengorbankan sesuatu dari kegiatan sosialnya menjadi relawan pada saat itu, yaitu Ia harus rela kehilangan untuk mendapatkan beasiswa. Tapi ternyata tidak sampai di situ. Dari jejak aktivitas kerelawanannya di bencana tsunami Aceh, dia pun berhasil meraih beasiswa ke Ohio University, Amerika Serikat. Chozin berkata, “Dari hal tersebut saya berpikir bahwa jika kita memikirkan banyak orang, maka akan banyak orang yang akan memikirkan kita.”

Chozin mengungkapkan bahwa di dalam organisasi ada anggota dan alumni. Tetapi di TurunTangan tidak ada alumni. Gerakan itu terus hidup dalam diri relawan. Sehingga berbuat baik dan TurunTangan terus di sepanjang hidup mereka.

“Jika kita ingin berbuat baik maka kita harus memproduksi orang-orang yang berbuat baik. kebaikan yang tidak terorganisir, akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir. Oleh karena itu cari sebanyak mungkin orang baik,” kata Chozin.

Banyak bertemu dengan pembicara yang hebat dengan topik yang menarik. Harapannya relawan dapat terinspirasi dan mengambil sesuatu yang positif dari para pembicara. Sehingga relawan dapat mengembangkan diri dan lebih banyak berbuat baik dalam memberikan dedikasinya untuk negeri.