TurunTangan Bangun Semangat Banten

Turun Tangan

31 Jan 2020

Minggu, 12 Januari 2020 – Banjir yang terjadi di Jabodetabek dan sekitarnya pada awal tahun 2020 sangat menyita perhatian publik. Namun, ada wilayah terdampak banjir longsor di Banten yang kurang mendapatkan perhatian karena letaknya cukup jauh dari ibu kota.

Banjir bandang dan tanah longsor tersebut terjadi pada 1 Januari 2020 di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten akibat meluapnya Sungai Ciberang dan Sungai Cidurian. Total ada 6 kecamatan yang terdampak yaitu Kecamatan Sajira, Cipanas, Curugbitung, Maja, Cimarga, dan Lebakgedong.

Kecamatan Lebak Gedong merupakan daerah yang terdampak cukup parah. Terdapat tiga desa terkena banjir dan longsor serta kampung yang terisolir salah satunya Desa Buluheun. Desa Buluheun berada di wilayah yang cukup tinggi namun banjir pun tidak terelakan di sana.

Turuntangan adalah sebuah inkubasi kepemimpinan pemuda dengan pendekatan gerakan kerelawanan. Kepedulian mereka terbangun melihat masyarakat yang memerlukan bantuan di Desa Buluheun. Komunitas TurunTangan bekerjasama dengan kitabisa.com melakukan gerakan untuk membangun semangat warga yang terdampak banjir dan longsor di provinsi paling barat di Indonesia itu melalui kegiatan psikososial dan medical check up.

Relawan TurunTangan melakukan asesmen awal di Desa Buluheun Lebak, Banten pada 6 Januari 2020 setelah melakukan aktivitas kerelawanan banjir di Jabodetabek. Mereka menggali permasalahan yang ada di Desa Buluheun terkait kebutuhan masyarakat penyintas banjir. Ternyata banyak warga yang terguncang hatinya pasca bencana banjir dan longsor. Selain itu, masyarakat sangat membutuhkan tenaga medis karena beberapa warga sakit seperti darah tinggi, gatal-gatal, demam, diare, cacingan, perlukaan akibat benda tajam yang menyebar pasca banjir yang membutuhkan segera pengobatan.

Salah satu relawan yang turun ke daerah bencana, Bintang berkata “Pertolongan medis disana sangat diperlukan, ada warga yang sangat membutuhkan obat namun ternyata sisa obat disana hanya satu strip. Hati saya sangat miris melihatnya. Selain itu banyak juga warga dan kelompok rentan seperti anak-anak yang merasakan trauma akibat banjir hebat di sana.” Melihat masalah tersebut TurunTangan segera mengadakan program di Desa Buluheun berupa penyembuhan trauma psikososial dan pelayanan medis.

Relawan yang total berjumlah 18 orang berangkat dari Jakarta pada 10 Januari 2020 pukul 21.00 WIB. Akses menuju Desa Buluheun cukup sulit karena jembatan yang biasa dilewati amblas diterjang banjir. Untuk menembus desa tersebut hanya bisa melewati jembatan darurat setapak menggunakan susunan kayu pohon dan bambu yang membuat desa tersebut cukup terisolir karena kurang optimalnya akses transportasi.

Salah satu relawan yang bergerak kesana, Ipin berkata, “Sangat menegangkan melalui jembatan kayu yang menjadi akses satu-satunya dengan sikon di bawah jembatan ada arus sungai yang sangat deras akibat banjir. Bertambah deg-degan ketika sampai di tengah-tengah jembatan mulai goyang karena tidak cukup stabil.”

Program psikososial yang dilakukan TurunTangan bekerjasama dengan pendongeng anak-anak yang diharapkan dapat menyembuhkan trauma anak-anak pasca banjir. Kak Ardy, pendongeng yang akrab dengan anak-anak menghibur melalui cerita penyelamatan diri dan diselingi oleh permainan dan menyanyi bersama. Setelah itu, anak-anak juga mendapatkan alat-alat tulis serta snack yang mereka sukai.

Untuk penanganan medis, TurunTangan bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mendirikan posko kesehatan darurat di Desa Buluheun. FKUI mengirimkan empat tenaga medis handal yaitu dokter, dan bagian farmasi. Tiga box besar berisi obat-obatan lengkap dengan alat penunjang seperti perawatan luka, tensimeter, alat cek gula darah, dan kolesterol disediakan dalam posko medis tersebut. Dengan cekatan para tenaga kesehatan memeriksa warga yang sudah banyak mengantri untuk memeriksakan kesehatan mereka.

Kegiatan tersebut mereka lakukan di akhir pekan dari 11-12 Januari 2020. Sesuai dengan misi kemanusiaan yang mereka bawa, diharapkan kegiatan yang telah dilakukan dapat mengembalikan semangat warga pasca banjir di Desa Buluheun untuk membangun kembali fisik dan mental mereka untuk bangkit dari keterpurukan pasca bencana banjir. (Ayu)