IRES Menginisiasi Ketahanan Pangan Masyarakat di Masa Pandemi melalui Dapur Berbagi

Turun Tangan

08 May 2020

Pemuda menginspirasi, hal itulah yang bisa dilihat melalui program Dapur Berbagi yang diinisiasi oleh pemuda yang tergabung dalam IRES (Indonesia Resilence). IRES merupakan lembaga penelitian yang didirikan oleh sekumpulan anak muda yang berfokus pada pengembangan studi tentang ketahanan kebencanaan berbasis aktivisme dengan pendekatan pemberdayaan partisipasi masyarakat yang diinkubasi oleh Gerakan TurunTangan.

Memberdayakan pemuda dari Karang Taruna setempat, mereka bekerjasama menciptakan dapur umum yang dinamakan Dapur Berbagi. Program ini sudah dimulai sejak 1 Mei 2020. Dapur Berbagi akan terus berjalan  selama 30 hari ke depan di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hari Akbar Priawan, salah satu penggerak dalam program Dapur Berbagi, berkata, “IRES memilih lokasi di Petamburan karena dalam keberlangsungan program diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat, dan Petamburan punya semangat kolektif. Selain itu Petamburan juga memiliki kepadatan penduduk yang juga rapat. Harapannya petamburan jadi role model kampung kota yang tanggap dan memiliki ketahanan pada saat  bencana.”

Dapur umum setiap harinya dilaksanakan di RW yang berbeda. Karang Taruna adalah pihak yang membagikan hasil masakan dari Dapur Berbagi setiap jam 3 sore untuk berbuka puasa dan jam 3 pagi untuk kebutuhan sahur.

Penerima manfaat program Dapur Berbagi ialah masyarakat Petamburan dengan kategori kelompok rentan yang terdampak covid seperti buruh PHK, tukang urut, pedagang, Ojek online dan lain-lain.

Dalam sistematikanya, Karang Taruna sebagai komunikator kepada PKK atau Masyarakat yang ingin membantu memasak. Selanjutnya Karang Taruna berkoordinasi dengan RT/RW untuk pendataan penerima manfaat. Semua kegiatan Dapur Berbagi ini dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Dalam hal ini IRES adalah mitra strategis sekaligus inisiator yang didukung Gerakan TurunTangan serta donasi dari kitabisa.com. “Memang kolaborasi buncit seperti inilah yang harus dilakukan dalam situasi sulit atau bencana. IRES siap membantu sebagai fasilitator dalam sistematika yang berlangsung,” kata Hari, pemuda yang menginjak usia 23 tahun ini.

Dalam melakukan program ini, memang PSBB adalah hal yang cukup sulit dilakukan, mengingat sangat minim sekali ruang yang ada karena lokasi Petamburan yang memang padat penduduk. Selain itu belum semua orang memiliki awareness terhadap penyebaran Covid-19. Hari berkata, “Dalam melaksanakan program, kami selalu melakukan dialog untuk membicarakan hambatan-hambatan yang ada. Sejauh ini proteksi yang kita selalu berusaha untuk memproteksi seluruh individu yang terlibat.”

Dalam keadaan bencana apapun (nature, non-nature, dan sosial) masyarakat harus terus bertahan untuk hidup. Jika melihat konteks pandemik hari ini kebutuhan dasar seperti makan dan kesehatan amat penting. Perlunya jaring pengaman sosial dan gerak solidaritas yang di kuatkan dalam kelompok masyarakat. Melalui program Dapur Berbagi ini, sekaligus melatih dan belajar bersama masyarakat untuk kuat bertahan dalam keadaan sulit dengan solidaritas. Maka, dapur umum dengan konsep gotong royong lah yang dihadirkan lewat Dapur Berbagi.

 “Masyarakat cukup kooperatif dalam melaksanakan program Dapur Berbagi. Mereka memiliki semangat yang besar dalam menjalankan kegiatan ini setiap hari. Dengan adanya program ini, masyarakat sangat senang karena bisa belajar bersama dalam menghadapi bencana,” kata Hari.