Vaksin, Senjata Melawan Corona

Turun Tangan

19 May 2020

Oleh: Nur Agustin Mardiana

Penyakit Covid-19 sudah menjadi pandemi global dengan kasus mencapai 3 juta jiwa dan jumlah kematian mencapai 200.000 jiwa. Kenyataan tersebut sukses membuatnya menjadi perhatian dunia, bahkan kini pejabat kesehatan dan ilmuan di dunia sedang berlomba untuk menemukan cara terbaik melawan perkembangan virus. Salah satu caranya dengan mengembangkan vaksin dan menemukan obat yang dapat mencegah penyebaran penyakit ini semakin meluas.

Vaksin sendiri merupakan zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi.

 

Bagaimana vaksin dibuat?

Vaksin dapat dibuat dengan 4 cara yaitu menggunakan virus hidup yang dilemahkan, virus yang diinaktivasi (mati), subunit atau antigen murni, dan toksoid yang diinaktivasi. 

1.      Vaksin hidup

Vaksin jenis ini dibuat dari virus yang dilemahkan di laboratorium. Virus akan dapat tumbuh dalam tubuh penerima vaksin tetapi tidak akan menyebabkan sakit atau hanya akan sakit ringan karena virusnya sudah dilemahkan. Contohnya vaksin BCG (tuberculosis), polio, campak, demam kuning, dan rotavirus

2.      Vaksin mati

Vaksin yang diinaktivasi dibuat dari mikroorganisme (virus, bakteri dan lain-lain) yang telah dimatikan dengan proses menggunakan bahan kimia tertentu atau secara fisik. Mikroorganisme yang sudah mati ini tidak dapat menyebabkan penyakit. Kelemahan dari vaksin ini adalah tidak memberikan perlindungan dalam jangka panjang sehingga perlu beberapa dosis. Contoh vaksin IPV (inactivated polio vaccine) dan pertussi

3.      Vaksin biosintetik

Vaksin biosintetik tidak mengandung komponen patogen hidup. Berbeda dengan vaksin inaktivasi yang berisi sel utuh, vaksin ini hanya mengandung sebagian dari komponen pathogen, misalnya protein, dan antigen permukaan dari virus. Meskipun hanya bagian dari komponen bakteri atau virus yang digunakan dalam pembuatan vaksin namun dapat merangsang pembentukan respon kekebalan. Contohnya adalah Haemophilus influenzae type b conjugate (Hib) dan vaksin pneumokokus konjugasi

4.      Vaksin toksoid

Vaksin jenis ini dibuat dari toksin (racun) yang sudah tidak berbahaya lagi, namun masih dapat merangsang respon imun melawan toksin tersebut. Vaksin dibuat dari toksin yang dihasilkan oleh bakteri tertentu (tetanus atau difteri). Toksin berbasis protein tidak berbahaya (toksoid). Contohnya vaksin untuk tetanus dan difteri

Lalu, bagaimanakah perkembangan pembuatan vaksin Covid-19?

Untuk saat ini, vaksin Covid-19 masih dalam tahap pengembangan para ilmuwan di seluruh dunia. Prosedur pembuatan vaksin sendiri melewati 2 pengujian yaitu uji pra-klinis dan uji klinis (clinical trial) yang dapat memakan waktu setidaknya 1 tahun hingga 18 bulan.

Pengujian pra-klinis biasanya menggunakan hewan coba untuk mengetahui efek penggunaan vaksin terhadap hewan coba. Sedangkan uji klinis adalah uji yang dilakukan secara sistematik kepada manusia. Biasanya pada tahap awal pengembangan vaksin, manusia yang menjadi sukarelawan untuk diberikan vaksin dalam rentang waktu dan dosis tertentu untuk mengetahui efikasi dan efek samping dari vaksin.

Menurut data WHO, terdapat 76 vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan, lima diantaranya sudah memasuki tahapan uji klinis dan sisanya masih dalam tahap pra-klinis. Semoga proses pengujian ini dapat berlangsung sebaik-baiknya sehingga kita dapat mengakhiri pertempuran panjang dengan Covid-19 dan dunia dapat kembali pulih seperti sediakala.

 

Sumber:

https://in.vaccine-safety-training.org/expectations-towards-safety-of-vaccines.html

https://www.who.int/blueprint/priority-diseases/key-action/novel-coronavirus-landscape-ncov.pdf